Selasa, 12 Mei 2009

JENDELA

Jendela diperlukan untuk lubang cahaya agar sinar matahari dapat secara langsung menyinari ruangan, dan juga diperlukan sebagai lubang ventilasi untuk pertukaran udara didalam ruangan. Menurut peraturan, setiap ruangan harus memiliki jendela sebagai lubang cahaya dan petukaran udara dengan minimal luas lubang jendela tanpa rintangan adalah sepersepuluh dari luas lantai ruangan dan sepersepuluh bagian dapat terbuka, dengan bentuk jendela meluas kea rah atas sampai sekurang-kurangnya 190 cm dari lantai.

Jika dinding ruangan tidak memungkinkan dibuat jendela, maka harus dibuat lubang cahaya pada langit-langit dan ventilasi buatan atau dengan cara penerangan listrik (lampu) secara minimal tiap ruangan kerja memiliki nilai penerangan 50 lux dan 20 lux untuk gang dan lain-lain.

LANGIT - LANGIT atau PLAFOND

Langit-langit merupakan pembatas tinggi ruangan, penutup kerangka atap bagian bawah dan yang terpenting merupakan penyekat panas.

Dengan adanya langit-langit di bawah rangka atap, maka terbentuk rongga (ruang) tertutup di atas ruangan. Rongga di dalamnya itu merupakan isolator yang baik, jika bahan langit-langit dibuat dari bahan yang tidak meneruskan panas.

Bentuk langit-langit dapat di buat datar sejajar dengan lantai atau miring sejajar dengan sudut miring rangka atap atau dengan variasi tinggi rendah. Bentuk langit-langit dapat mempengaruhi kesan dan bentuk ruangan serta kemampuannya menyekat panas. Misalnya, langit-langit datar akan membentuk rongga atap yang lebih besar dari langit-langit miring, maka langit-langit datar dapat menyekat panas yang lebih baik.

Menurut peraturan tinggi langit-langit datar minimal 240 cm, terkecuali untuk :

1. Langit-langit miring, dengan syarat minimal ½ dari luas ruang memiliki langit- langit setinggi 240 cm dan tinggi selebihnya dengan titik terendah minimal 175 cm.

2. Langit-langit pada kamar mandi, ruang cuci dan W/C yang boleh dibuat lebih rendah dengan minimal 210 cm.

RANGKA ATAP

Rangka atap adalah suatu bentuk konstruksi yang berfungsi sebagai penopang, penyangga dan dasar landasan penutup atap. Rangka atap untuk rumah tinggal pada umumnya dibuat dari bahan kayu yang cukup kuat.

Bagian-bagian pokok rangka atap dengan menggunakan penutup atap genteng dan sejenisnya (atap konvensional) terdiri dari :

1. Kuda-kuda
2. Balok tembok
3. Gording
4. Nok (bubungan)
5. Jure (hip and valley)
6. Usuk (kaso)
7. Reng
8. Papan suri
9. Papan talang
10. Lisplang
11. Balok pincang
12. Ikatan angin

KUDA - KUDA

Kuda-kuda merupakan kerangka utama yang memikul hampir semua beban atap, karena diatas kuda-kuda terpasang bagian rangka atap yang lain. Selain memikul beban sendiri dan beban kerangka atap yang lain, kuda- kuda juga memikul beban tak tetap, seperti angin dan air hujan yang merupakan beban yang cukup besar. Oleh karena itu konstruksi kuda-kuda direncanakan untuk memikul seluruh beban, gaya dan momen yang terjadi.

Letak kekuatan kuda-kuda bukan semata-mata ditentukan oleh besarnya balok kayu yang digunakan, akan tetapi juga tergantung pada bentuk dan struktur kuda-kuda itu sendiri. Pada prinsipnya kuda-kuda harus dapat membagi dan mengarahkan beban yang dipikul pada bagian yang telah ditentukan.

BALOK TEMBOK

Balok tembok merupakan gording yang yang terletak diatas dinding (tembok) luar. Balok ini berfungsi sebagai landasan pemasangan kaso dan sebagai pengikat kaki kuda-kuda agar berada pada posisi yang tepat.

NOK

Balok nok terletak pada puncak kuda-kuda, berfungsi sebagai landasan pemasangan usuk, serta penghubung dan pengikat antara satu kuda-kuda dengan kuda-kuda yang lain. Oleh karena balok nok berada pada puncak kuda-kuda yang merupakan pertemuan kedua penutup atap (genteng) dari kedua sisi atap, maka nok juga merupakan landasan penutup kedua sisi atap. Penutup pertemuan sisi atap itu berupa genteng nok yang berbentuk seperti huruf U atau V.

GORDING

Gording merupakan suatu balok yang dipasang melintang pada sisi miring kuda-kuda dan berfungsi untuk dasar perletakan kaso (usuk).

Jarak pemasangan gording pada sisi miring kuda-kuda maksimal tiga meter dari satu gording ke gording yang lain, sedangkan gording untuk atap asbes gelombang di pasang dengan jarak maksimal 1,20 meter, karena gording juga langsung berfungsi sebagai landasan pemasangan asbes gelombang.

Referensi Buku

  • Dasar Perencanaan Rumah Tinggal by Tutu TW. Surowiyono